|

Alimin: Dari Anak Angkat Pemerintah Kolonial ke Tokoh Gerakan Kiri

Foto Alimin ( Anak Kos )
Foto Alimin ( Anak Kos )

Jenis Koleksi: REPLIKA FOTO

Awal Kehidupan dan Pendidikan Kolonial

Alimin lahir di Solo pada tahun 1889 dan wafat di Jakarta pada 24 Januari 1964. Ia berasal dari keluarga miskin di Surakarta. Perjumpaannya dengan dunia kolonial terjadi sejak usia dini, ketika G. A. J. Hazeu—Penasehat Urusan Pribumi pemerintah Hindia Belanda—tertarik pada sikap sosial Alimin kecil yang membagikan uang pemberian kepada teman-temannya. Ketertarikan ini berujung pada pengangkatan Alimin sebagai anak angkat Hazeu, sekaligus membuka akses pendidikan Eropa di Betawi.

Pendidikan kolonial tersebut diharapkan membentuk Alimin sebagai calon pegawai pemerintah. Namun, alih-alih menjadi bagian dari birokrasi kolonial, Alimin justru mengembangkan kesadaran politik dan memilih jalur perlawanan melalui dunia jurnalistik dan organisasi pergerakan.

Perjumpaan dengan Sarekat Islam dan Tjokroaminoto

Sejak remaja, Alimin aktif dalam pergerakan nasional. Ia memulai kiprahnya sebagai wartawan surat kabar Djawa Moeda dan sempat bergabung dengan Budi Utomo. Namun, ketika Sarekat Islam muncul sebagai organisasi dengan garis perlawanan yang lebih tegas terhadap kolonialisme, Alimin memilih bergabung dengan organisasi tersebut. Pada masa inilah ia pernah tinggal di rumah kost milik H.O.S Tjokroaminoto di Surabaya.

Dalam konteks Museum H.O.S Tjokroaminoto, periode ini penting karena menunjukkan rumah Tjokroaminoto sebagai ruang kaderisasi politik lintas ideologi. Di bawah pengaruh lingkungan Sarekat Islam, Alimin menyerap semangat keberpihakan kepada rakyat kecil, disiplin organisasi, dan pentingnya pergerakan massa—nilai-nilai yang kelak membentuk arah perjuangannya.

Radikalisasi Politik dan Gerakan Buruh

Setelah fase Sarekat Islam, Alimin bersama dr. Tjipto Mangunkusumo bergabung dengan organisasi Insulinde dan menjadi editor jurnal Modjopahit di Batavia. Aktivismenya semakin menguat ketika ia terlibat langsung dalam pengorganisasian buruh pelabuhan dan pelaut, serta turut mendirikan Sarekat Buruh Pelabuhan, yang sebelumnya dikenal sebagai Sarekat Pegawai Pelabuhan dan Lautan.

Puncak pergeseran ideologinya terjadi saat Alimin bergabung dengan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), organisasi sosialis yang kemudian berkembang menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Sejak tahun 1918, Alimin tercatat sebagai pimpinan wilayah Jakarta. Perjalanan ini menegaskan bagaimana kader Sarekat Islam seperti Alimin menempuh jalan perjuangan yang semakin radikal, berangkat dari pengalaman awal di lingkungan Tjokroaminoto.

Makna Kuratorial di Museum H.O.S Tjokroaminoto

Dalam narasi kuratorial Museum H.O.S Tjokroaminoto, Alimin ditampilkan sebagai contoh nyata dinamika dan keragaman ideologi yang lahir dari rahim pergerakan awal. Kisah hidupnya memperlihatkan bahwa rumah Tjokroaminoto bukan hanya melahirkan pemimpin nasionalis dan Islam, tetapi juga tokoh-tokoh gerakan kiri. Alimin menjadi saksi bahwa sejarah pergerakan nasional Indonesia dibentuk oleh persilangan gagasan, pengalaman sosial, dan pilihan ideologis yang beragam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 6 = 3
Powered by MathCaptcha

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 7 = 2
Powered by MathCaptcha

error: Content is protected !!