|

Darijah Soerodikoesoemo; Hari Ibu dan Api Perjuangan di Dapur Umum

Dalam setiap pertempuran besar, sejarah kerap menyorot derap langkah para pria di garis depan. Namun di balik dentum senjata dan gelegar mortir, ada tangan-tangan perempuan yang bekerja tanpa jeda menyiapkan makanan, merawat luka, dan menjaga nyala harapan agar perjuangan tidak padam. Pertempuran Surabaya 1945 membuktikan bahwa kemerdekaan Indonesia juga dirawat oleh keberanian perempuan.

Salah satu sosok itu adalah Bu Dar Mortir.

Lahir di Purwokerto pada tahun 1908, Bu Dar Mortir bernama asli Darijah Soerodikusumo, mengabdikan hidupnya bagi perjuangan kemerdekaan. Meski tidak memiliki anak secara biologis, perannya menjelma sebagai figur keibuan bagi para pejuang. Dari rumahnya di Jalan Pacar No. 1 Surabaya, ia memelopori Dapur Umum, ruang sederhana yang menjadi sumber tenaga, semangat, dan ketahanan para pejuang di medan laga.

Julukan “Dar Mortir” melekat padanya bukan tanpa sebab. Susur yang selalu terselip di mulutnya menjadi ciri khas, bahkan simbol ketegasannya. Ia tak segan menegur pejuang yang tidak tertib sebuah ketegasan yang lahir dari rasa tanggung jawab dan kepedulian. Di usia 42 tahun, Bu Dar bergerak ke garis depan, tanpa gentar, sejak pertempuran awal Surabaya melawan Inggris pada 27 hingga 30 Oktober 1945.

Lebih dari sekadar memasak, Bu Dar Mortir mengorganisir pos-pos PMI untuk merawat para pejuang yang terluka. Ia sangat teliti memastikan makanan layak konsumsi, menyadari bahwa satu kesalahan kecil dapat berakibat fatal. Hingga tercatat sekitar 100 Dapur Umum berdiri di wilayah Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo sebuah jaringan logistik yang menopang perlawanan rakyat.

Ketika Surabaya jatuh ke tangan Sekutu, Bu Dar tetap bertahan. Ia diminta mengelola dapur umum di markas pertahanan COPP VI di bawah Letkol Latif Hadiningrat. Dalam situasi mundur menuju Jombang ketika kota-kota telah kosong tanpa penduduk Bu Dar bahkan melepaskan gelang dan kalung emasnya, menukarkannya dan menjadi jaminan demi bahan makanan bagi para pejuang. Sebuah pengorbanan sunyi yang lahir dari naluri merawat dan menjaga kehidupan.

Pada Hari Ibu, kisah Bu Dar Mortir mengingatkan kita bahwa makna keibuan melampaui ikatan darah. Ia hidup dalam tindakan merawat, berkorban, dan melindungi masa depan bangsa. Perjuangannya membangun memori kolektif masyarakat Surabaya terutama bagi generasi muda bahwa kemerdekaan Indonesia juga dimenangkan oleh keteguhan hati seorang perempuan.

Selamat Hari Ibu Tahun 2025

Sumber:

  • drg Barlan Setiadijaya; 10 November 1945, Gelora Kepahlawanan Indonesia, Yayasan Dwi Warna, Jakarta, 1991
  • Frank Palmos; Surabaya 1945 Sacred Territory, Revolutionary Surabaya as Birthplace of Indonesian Independence, Doctoral Thesis,2011
  • Sudi Sujono; “Tetepangan Bu Dar Mortir”, Panjebar Semangat, 21 April 1971
  • Bunga Rampai Perjuangan & Pengorbanan jilid 2, Markas Besar Legium Veteran RI, Jakarta, 2000.
  • Arsip Museum Sepuluh Nopember Surabaya, “Catatan Perjuangan Bu Dar Mortir”, Surabaya, 1972.
  • Propinsi Djawa Timur, Kementrian Penerangan, Jakarta, 1953.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 58 = 59
Powered by MathCaptcha

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 38 = 44
Powered by MathCaptcha

error: Content is protected !!