Bukan Sekedar Romansa: Everdina, Perempuan di Balik Keteguhan Dr. Soetomo

Bulan Februari kerap dikaitkan dengan bulan kasih sayang, momen ketika cinta dirayakan melalui berbagai simbol seperti bunga, cokelat dan surat cinta. Namun, makna cinta sejatinya tidak selalu lahir dari hal-hal romantis yang mewah. Dalam perjalanan sejarah, cinta justru tumbuh di tengah keterbatasan, perbedaan dan perjuangan. Salah satunya tercermin dalam kisah Dr. Soetomo dan Everdina Brüring, sebuah cerita tentang kasih sayang yang menghadapi perbedaan status sosial, sekat kolonial, dan tuntutan zaman.
Pertemuan mereka bermula saat Dr. Soetomo dipindahkan ke Blora, Jawa Tengah, untuk bekerja di sebuah rumah sakit. Dalam salah satu tugasnya, Soetomo diminta menjemput seorang perawat Belanda bernama Johanna Everdina Brüring, yang lahir di Arnhem pada 25 November 1879.
Everdina dikenal sebagai perempuan yang pendiam dan kerap terlihat murung. Rasa empati Soetomo perlahan tumbuh, hingga ia mengetahui bahwa Everdina baru saja kehilangan suaminya dan menyandang status janda.
Dari percakapan sederhana, hubungan mereka berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius. Namun, cinta mereka bukan tanpa rintangan. Di Hindia Belanda, perbedaan status sosial menjadi tembok tebal. Orang Belanda ditempatkan pada derajat yang dianggap lebih tinggi dibandingkan bumiputera. Hubungan Soetomo dan Everdina menuai penolakan, bahkan dari rekan-rekan seperjuangan Soetomo sendiri. Banyak yang menilai pernikahan itu dapat merusak citra dan mengganggu perjuangan nasional.
Meski demikian, Soetomo tetap teguh pada pilihannya. Yang menarik, Everdina justru menjadi sosok yang paling memahami dan mendukung pengabdian Soetomo kepada bangsa. Sebelum kembali bertugas ke Sumatera, mereka menikah secara Islam di Blora. Pada tahun 1918, Soetomo kembali ke Sumatera bersama istrinya.
Johanna Everdina Brüring lahir di Arnhem pada 25 November 1879. Sebelum menikah dengan Soetomo, ia tinggal di Arnhem bersama suaminya, Jan de Graff, yang bekerja sebagai kepala stasiun trem. Kehidupannya berubah total setelah memilih berjalan bersama Soetomo, seorang dokter bumiputera yang hidupnya dipenuhi pengabdian sosial.
Kerja keras Dr. Soetomo dalam menangani penyakit pes atau sampar (plague), penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri, mendapat pengakuan dari pemerintah Belanda. Ia memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi di Belanda, khususnya mempelajari penyakit kulit dan kelamin di Universitas Amsterdam. Selama masa studi itu, Soetomo dan Everdina tinggal di sebuah ruko empat lantai di Jalan Ruijterweg.
Selama berkuliah, rumah mereka seringkali dijadikan basecamp para pelajar dari bumiputera untuk melepas rindu atas makanan khas Indonesia, karena Everdina seringkali membuat masakan Indonesia, seperti nasi goreng.
Pada tahun 1923, pasangan ini kembali ke Surabaya untuk mengabdi kepada masyarakat. Everdina dikenal sebagai pribadi yang tak pernah menolak warga yang datang meminta pertolongan, meski saat itu ia sendiri sedang berjuang melawan penyakit yang dideritanya. Soetomo sempat merencanakan perjalanan ke Eropa agar Everdina bisa menjalani pengobatan di Swiss, namun rencana itu tak pernah terwujud.
Kondisi Everdina semakin memburuk hingga akhirnya ia meninggal dunia pada Sabtu, 17 Februari 1934. Dalam pidato pemakamannya, Dr. Soetomo menyampaikan kalimat yang hingga kini menjadi saksi keteguhan cinta mereka:
“Isteri saya seorang yang cinta kepada bangsanya… dia tidak berdiri di atas rakyatnya, tetapi di dalamnya. Sebagai seorang Belanda yang sungguh-sungguh, istri saya cinta akan kemerdekaan, keadilan, dan persamaan.”

Setelah kepergian Everdina, Dr. Soetomo tidak pernah terpikir untuk menikah lagi. Ia memilih hidup seorang diri. Namun, sesuai dengan permintaan mendiang istrinya, Soetomo tetap melanjutkan perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia. Ia melanjutkan perjalanannya sebagai dokter dan dosen di CBZ (Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting) yang saat ini namanya diubah menjadi RSUD Dr. Soetomo.
Dari kisah ini, kita belajar bahwa cinta bukan sekadar tentang kebersamaan yang manis, tetapi juga tentang kesetiaan, pengorbanan, dan keberanian melawan batas zaman. Di balik sosok besar Dr. Soetomo, berdiri seorang perempuan yang teguh di sisinya, mencintai, mendukung, dan memilih untuk berdiri di dalam rakyat.
Disusun oleh:
Dini Amalia Putri – 23041184279
Widia Aulia Naylawati – 23041184496
Nathania Abigael Kurniadi – 23041184191
Nibras Safi Sabrina – 23041184439
Nailah Ayudia Faizzah – 23041184185
(Tim Growvia – Studi Independen Ilmu Komunikasi Unesa)

Tinggalkan Balasan