Suara Perjuangan dari Surabaya: Jejak RRI dan Radio Bekupon dalam Kemerdekaan

Radio sering kita kenal sebagai media hiburan sekaligus sarana penyampaian informasi. Dari siaran berita hingga alunan lagu, radio kerap menjadi teman setia dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Namun, jauh sebelum radio menemani perjalanan di tengah kemacetan kota, alat komunikasi ini pernah berdiri di garis depan perjuangan kemerdekaan. Radio menjadi alat perlawanan, penyebar semangat, sekaligus pemersatu keberanian rakyat. Di Kota Surabaya, jejak sejarah tersebut hidup melalui perjuangan Radio Republik Indonesia (RRI) Surabaya dan pemanfaatan Bekupon sebagai alat komunikasi.
Di tengah keterbatasan penggunaan radio, lahirlah sebuah inovasi arek Suroboyo untuk menyebarkan informasi, Radio Bekupon. Disebut “bekupon” karena bentuknya menyerupai rumah burung dara, radio ini berukuran kecil dan dipasang di titik-titik strategis kampung.
Radio Bekupon berfungsi sebagai pengeras suara bersama. Warga yang tidak memiliki radio pribadi tetap dapat mendengarkan kabar perjuangan, pidato Bung Tomo, dan perkembangan pertempuran. Di sudut-sudut kampung, masyarakat berkumpul, menyimak siaran dengan khidmat, lalu pulang membawa semangat yang sama. Dari alat ini, rasa kebersamaan dan keberanian tumbuh di jiwa masyarakat .
Sejarah Radio di Surabaya
Sejarah radio di Surabaya bermula sejak masa kolonial Belanda, ketika NIROM ( Nederlandsch Indische Radio Omroep Maatschappij ) mulai mengudara pada 1 April 1934. Namun, pada Maret 1942, Stasiun radio diambil alih oleh Jepang dan diubah namanya menjadi Surabaya Hoso Kyoku, difungsikan sebagai alat propaganda militer.
Di balik siaran resmi yang dikontrol ketat, radio justru menjadi ruang sunyi bagi perlawanan. Para pemuda Surabaya secara sembunyi-sembunyi memanfaatkan radio untuk mendengarkan siaran luar negeri, mencatat kabar tentang kekalahan Jepang, dan menyebarkannya dari mulut ke mulut. Radio tidak lagi sekadar alat siar, melainkan harapan di tengah tekanan penjajahan.
Pada 27 September 1945, pemuda Surabaya berhasil mengambil alih Surabaya Hoso Kyoku. Dari studio, mengalun kalimat bersejarah:
“Di sini Radio Republik Indonesia Surabaya… Sekali merdeka tetap merdeka.”
Sejak saat itu, RRI Surabaya resmi menjadi bagian dari suara republik yang baru lahir.
Dari cerita sejarah ini, radio menunjukkan maknanya, bukan sekadar teknologi, melainkan jembatan suara antara perjuangan dan rakyat. RRI Surabaya dan Radio Bekupon membuktikan bahwa suara dapat menjadi senjata tanpa peluru, tanpa ledakan, tetapi mampu menggerakkan ribuan langkah.
Hari Radio menjadi momen untuk mengenang kembali peran besar media ini dalam sejarah bangsa. Dari studio RRI hingga radio kecil di pojok kampung, radio pernah menjadi saksi, penggerak, dan penjaga semangat kemerdekaan. Sebuah pengingat bahwa suara, ketika digunakan untuk kebenaran dan keberanian, mampu mengubah arah sejarah.
Disusun oleh:
Dini Amalia Putri – 23041184279
Widia Aulia Naylawati 23041184496
Nathania Abigael Kurniadi – 23041184191
Nibras Safi Sabrina – 23041184439
Nailah Ayudia Faizzah – 23041184185

Tinggalkan Balasan