|

Naskah Dluwang

Naskah Dluwang bertulisan pegon

Jenis: Naskah Kuno

Media Tulis Tradisional dalam Sejarah Pendidikan Indonesia

Dluwang adalah kertas tradisional yang terbuat dari kulit pohon saeh (Broussonetia papyrifera) yang diolah dengan metode ‘kempa’ atau dipukul. Proses pembuatan kertas ini melalui proses perendaman, pemukulan, dan pengeringan hingga menjadi lembaran yang dapat digunakan untuk menulis. Kertas ini banyak digunakan di wilayah Jawa dan pesantren-pesantren sebagai sarana penyebaran ilmu pengetahuan dan ajaran keagamaan.

Dahulu, dluwang digunakan untuk menuliskan berbagai jenis teks seperti karya sastra, ajaran keagamaan, hingga catatan administratif. Dluwang juga memiliki peran penting sebagai media untuk mendokumentasikan suatu pengetahuan yang diajarkan dari masa ke masa.

Berbagai naskah dluwang ditulis menggunakan huruf Arab Pegon dalam naskah keagamaan Islam dan Aksara Jawa yang berkembang sejak masa kerajaan Jawa. Penggunaan dua sistem tulisan tersebut menunjukkan dinamika pendidikan Nusantara yang mempertemukan tradisi lokal dan pengaruh islam.

Dalam lingkungan pesantren, dluwang menjadi media untuk para santri menyalin kitab-kitab keagamaan. Sementara di lingkungan keraton dan masyarakat terpelajar, dluwang berisi ajaran moral, filsafat, tata pemerintahan dan sastra. Tradisi menulis di atas dluwang menjadi bukti bahwa pendidikan Indonesia memiliki sistem dokumentasi warisan ilmu yang kuat melalui manuskrip yang dijaga dan dipelajari secara turun temurun.

Dluwang menjadi inovasi yang lebih fleksibel pada masanya dibandingkan dengan penggunaan lontar yang sudah ada sebelumnya. Dengan adanya media tulis seperti dluwang, pengetahuan dapat disimpan, diwariskan, dan dipelajari kembali.

Naskah dluwang mengajarkan bahwa literasi tidak hanya tentang membaca dan menulis, tapi juga menghargai proses penyebaran ilmu pengetahuan. Beberapa koleksi naskah dluwang dapat ditemukan di Museum Pendidikan Surabaya. Naskah ini memperlihatkan bagaimana masyarakat zaman dahulu mendokumentasikan ajaran, nilai, serta pengetahuan menggunakan bahan alami sebelum hadirnya kertas modern dan teknologi cetak. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 5 = 3
Powered by MathCaptcha

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

43 + = 51
Powered by MathCaptcha

error: Content is protected !!