Turis Amerika Kunjungi Museum W.R. Soepratman, Tertarik Jejak Pencipta Indonesia Raya

Surabaya – Minat wisatawan mancanegara terhadap wisata sejarah di Surabaya terus menunjukkan tren positif. Salah satunya terlihat dari kunjungan Anderson, turis asal Amerika Serikat, ke Museum W.R. Soepratman di Jalan Mangga No. 21, Surabaya.
Museum tersebut merupakan rumah tempat wafat Wage Rudolf Soepratman, pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, pada 17 Agustus 1938. Meski berukuran tidak besar, museum ini menyimpan nilai historis penting dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Tertarik Sejarah Musik dan Perjuangan
Anderson mengaku sengaja memasukkan Museum W.R. Soepratman ke dalam agenda kunjungannya selama berada di Jawa Timur. Ketertarikannya pada sejarah musik dan perjuangan kemerdekaan Indonesia menjadi alasan utama.
“Saya ingin melihat langsung tempat di mana lagu kebangsaan Indonesia diciptakan dan memahami konteks sejarahnya,” ujarnya.
Menurutnya, mengunjungi museum seperti ini memberikan perspektif berbeda dibandingkan hanya menikmati destinasi wisata populer.
Sistem Tiket Digital Jadi Perhatian
Dalam kunjungannya, Anderson juga menyoroti sistem tiket museum yang telah sepenuhnya berbasis digital. Pemesanan dilakukan melalui laman tiketwisata.surabaya.go.id dengan metode pembayaran non-tunai menggunakan QRIS.
Untuk wisatawan mancanegara, tarif masuk dikenakan sebesar Rp15.000, sementara wisatawan domestik Rp5.000. Museum buka setiap Selasa hingga Minggu pukul 08.00–15.00 WIB.
Ia menilai penerapan sistem digital tersebut menunjukkan komitmen pengelola dalam menghadirkan layanan modern tanpa meninggalkan nilai sejarah yang ada.
Rumah Sederhana Sarat Makna
Sesampainya di lokasi, pengunjung disambut halaman yang tertata rapi serta patung W.R. Soepratman memainkan biola. Rumah tersebut dulunya milik kakak perempuan Soepratman, Roekiyem Soepratijah, dan menjadi tempat sang komponis menghembuskan napas terakhir.
Di dalam ruang pamer, pengunjung dapat melihat koleksi foto keluarga, piagam penghargaan, perangko, serta replika biola yang menjadi simbol perjuangan melalui musik.
Menurut Anderson, meski bangunannya sederhana, atmosfer historisnya terasa kuat. Ia mengaku terkesan dengan kisah perjuangan yang dijelaskan oleh pemandu museum dalam bahasa Inggris.

Wisata Edukasi dan Sejarah
Kehadiran pemandu yang informatif menjadi salah satu nilai tambah museum ini. Penjelasan mengenai latar belakang penciptaan Indonesia Raya serta kondisi Indonesia pada masa kolonial memberikan pengalaman edukatif bagi pengunjung asing.
Kunjungan wisatawan mancanegara ini menjadi bukti bahwa Museum W.R. Soepratman tidak hanya relevan sebagai destinasi wisata sejarah Surabaya, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran lintas budaya.
Melalui rumah sederhana tersebut, nilai perjuangan dan semangat persatuan bangsa terus diperkenalkan kepada generasi muda maupun wisatawan dunia.

Tinggalkan Balasan