|

Di Antara Purnama dan Fajar: Kisah Cinta Orang Tua Soekarno

Bulan Februari selalu membawa kita pada perayaan cinta yang gemerlap. Cokelat dalam kotak pita, mawar merah di tangan sepasang kekasih, dan unggahan manis di media sosial. Tapi cinta sejati, dalam sejarah bangsa ini, tidak pernah sesederhana itu. Ia lahir di ruang-ruang sunyi yang tak direstui, tumbuh di antara perbedaan yang tak mudah diterima dan bertahan meski harus membayar harga yang mahal. Bahkan jika harga itu berarti gelar kebangsawanan yang dicabut, atau perhiasan warisan yang dilebur satu per satu.

Di Buleleng, Bali, pada akhir abad ke-19, seorang gadis bernama Ida Ayu Nyoman Rai yang akrab dipanggil Srimben menjadi saksi bagaimana cinta memintanya melepaskan hampir segalanya. Dan dari peluh serta air mata cinta itulah, lahir seorang anak yang kelak membebaskan bangsa ini dari penjajahan.

Pertemuan mereka bermula dari perbedaan. Raden Soekeni Sosrodihardjo, putra Jawa dari Tulungagung, datang ke Buleleng sebagai guru sekolah rendah pribumi. Ia adalah sosok terpelajar, penganut teosofi, dan fasih berbahasa Bali. Kemampuan itu membuatnya lekas akrab dengan penduduk setempat. Penduduk memanggilnya I Guru atau Raden Guru. Pondokannya di Paket Agung hanya berjarak sekitar 400 meter dari Banjar Bale Agung, pusat perayaan dan ritual keagamaan masyarakat setempat.

Di sanalah, pada suatu malam purnama ketika upacara piodalan digelar, Soekeni pertama kali mencuri pandang ke arah Srimben yang sedang menari. Gadis Bali itu menari dengan khidmat, jemarinya lentik mengalun seirama kidung, dikelilingi harum pohon cempaka. Made Lastri, sahabat Srimben, kemudian memperkenalkan mereka.

Srimben bukanlah gadis biasa. Lahir sekitar tahun 1881 dari pasangan Nyoman Pasek dan Ni Made Liran, ia adalah keturunan keluarga Pasek, salah satu marga terpandang di Bali. Kakeknya, Jro Mangku Nebel, adalah pemangku di Pura Desa Bale Agung. Sejak kecil, Srimben telah akrab dengan lingkungan pura. Ia mahir menulis aksara Bali, melagukan kidung, menari, menenun, hingga menyiapkan sesaji upacara. Darah seni dan sastra yang sarat falsafah hidup masyarakat Bali telah mengalir dalam dirinya sejak kecil. Namanya sendiri, Srimben, berakar dari kata Sri yang berarti kemakmuran, keelokan, kelimpahan, dan mben yang berarti rimbun. Srimben adalah limpahan rezeki yang membawa kebahagiaan dari Bhatari Sri.

Namun cinta mereka tak berjalan mulus. Perbedaan etnis Jawa-Bali dan perbedaan agama Islam-Hindu menjadi tembok yang nyaris tak tertembus. Keluarga Srimben menolak mentah-mentah. Status Soekeni yang hanya seorang guru bumiputera dianggap tidak sepadan dengan garis keturunan bangsawan Srimben.

Maka keduanya memilih jalan yang tak biasa, ngerorod, atau kawin lari. Dalam tradisi Bali, kawin lari bukan sekadar kabur bersama kekasih. Ada tata cara yang harus diikuti. Soekeni dan Srimben bermalam di rumah seorang Kepala Polisi Belanda yang menjadi kawan Soekeni. Di sanalah mereka berlindung. Ketika keluarga Srimben datang hendak menjemput paksa, sang Kepala Polisi berkata tegas, “Tidak, dia berada dalam perlindungan saya.”

Namun perlindungan itu tidak gratis. Keduanya harus dihadapkan ke pengadilan kolonial untuk memastikan bahwa pernikahan ini terjadi atas kemauan sendiri, bukan paksaan. Di hadapan hakim, Srimben ditanya, “Apakah laki-laki ini memaksamu, bertentangan dengan kemauanmu sendiri?”

Srimben menjawab dengan kalimat yang kelak menjadi pusaka keluarga. “Tidak, tidak. Saya mencintainya dan melarikan diri atas kemauan saya sendiri.”

Hakim tak bisa membatalkan pernikahan itu. Namun pengadilan menjatuhkan denda sebesar 25 ringgit. Nilai yang sangat besar pada masa itu, setara dengan 25 dolar Hindia Belanda. Bukan hanya denda. Pengadilan adat juga memutuskan gelar kebangsawanan Srimben dicabut. Ia tidak diperkenankan membawa barang apa pun dari rumah orang tuanya. Bahkan baju yang dibeli keluarganya pun harus ditinggalkan.

Srimben meninggalkan Bali dengan tangan hampir kosong. Satu-satunya harta yang ia bawa adalah perhiasan emas warisan keluarganya. Dan itu pun harus ia jual seluruhnya untuk membayar denda 25 ringgit. Perempuan yang namanya berarti limpahan rezeki itu rela menjadi miskin demi cinta yang dipilihnya.

Setelah denda dilunasi dan pernikahan resmi pada 15 Juni 1897, Soekeni dan Srimben memulai hidup baru di rumah kontrakan sederhana, tak jauh dari Banjar Bale Agung. Dari rahim Srimben, lahir bayi perempuan yang dinamai Soekarmini pada 29 Maret 1898. Ari-arinya ditanam di pekarangan kontrakan, dan di atasnya ditanam pohon belimbing. Hingga kini, pohon itu masih hidup. Ia menjadi saksi bisu dari kehidupan sederhana pasangan tersebut.

Tahun 1898, Soekeni dipindahkan ke Surabaya. Kota pelabuhan itu sedang bertransformasi menjadi pusat perdagangan dan industri kolonial. Keluarga kecil ini tinggal di Gang Pandean IV Nomor 40, Peneleh, sebuah kawasan tua di tepi Kali Mas. Nama Peneleh konon berasal dari kata pinilih yang berarti pilihan atau yang terpilih. Di kampung padat yang identik dengan keahlian pertukangan itulah, Srimben mengandung anak keduanya.

Jelang kelahiran, terjadi musibah besar. Gunung Kelud di Kediri meletus pada 22 dan 23 Mei 1901. Dalam kepercayaan Jawa, kelahiran yang dekat dengan letusan gunung kerap dianggap sebagai pertanda lahirnya tokoh besar.

Pada 6 Juni 1901, pukul setengah enam pagi, 05.16 WIB tepatnya, Srimben melahirkan bayi laki-laki di sebuah rumah sederhana dekat pemakaman Belanda, Kampung Pandean III, Surabaya. Bayi itu lahir saat fajar merekah di ufuk timur.

Namun kelahiran itu tak semanis namanya. Keluarga ini terlalu miskin. Soekeni bahkan tak mampu memanggil dukun bayi. Satu-satunya penolong adalah seorang kakek tua, tetangga rumah mereka. Bertahun-tahun kemudian, Soekarno mengenang momen itu dalam otobiografinya bersama Cindy Adams.

“Kelahiran itu sendiri sangatlah menyedihkan. Bapak tidak mampu memanggil dukun untuk menolong anak yang akan lahir. Kami terlalu miskin. Satu-satunya orang yang mengurus ibu adalah sahabat keluarga kami, seorang lelaki yang sudah sangat, sangat tua. Adalah dia, dan tak ada orang yang lain, yang menyambut kehadiranku di dunia ini.”

Di tengah keterbatasan itu, Srimben tetap menanamkan nilai-nilai luhur. Ia mendidik anak-anaknya dengan bekal spiritual Hindu yang ia warisi dari leluhurnya. Ia mengajarkan kesederhanaan, keteguhan, dan keberanian menghadapi hidup. Dan ia tak pernah berhenti mengulang kalimat yang sama kepada bayinya yang lahir saat fajar.

“Anakku, engkau sedang memandangi matahari terbit. Dan engkau, anakku, kelak akan menjadi orang yang mulia, pemimpin besar dari rakyatmu, karena Ibu melahirkanmu di saat fajar menyingsing. Jangan sekali-kali lupakan, nak, bahwa engkau ini putra sang fajar.”

Sejak saat itu, sebutan Putra Sang Fajar melekat pada Soekarno sepanjang hayatnya.

Masa kecil Soekarno, yang dipanggil Kusno, dilalui dengan berpindah-pindah mengikuti tugas sang ayah. Ia kerap jatuh sakit. Malaria, disentri, bergantian menyerang. Dalam budaya Jawa, kondisi kabotan jeneng, nama yang terlalu berat bagi pemiliknya, sering diatasi dengan pergantian nama. Maka Kusno diubah menjadi Soekarno.

Nama itu dipilih bukan tanpa alasan. Soekeni, sang ayah, adalah pengagum berat wiracarita Mahabharata. Ia mengambil nama Karna, ksatria perkasa yang terkenal karena kesetiaan dan keberaniannya. Karna adalah panglima perang yang teguh pada keyakinan meski harus menghadapi konsekuensi pahit.

“Namaku ketika lahir adalah Kusno. Aku memulai hidup ini sebagai anak yang sakit-sakitan. Aku terkena malaria, disentri, semua penyakit dan setiap penyakit. Bapak berpikir, namanya tidak cocok. Kita harus memberinya nama lain supaya tidak sakit-sakitan lagi. Bapak adalah pengagum Mahabharata, cerita klasik Hindu zaman dulu. Aku belum mencapai usia remaja, ketika bapak berkata, engkau akan kami beri nama Karna. Karna adalah salah seorang pahlawan terbesar dalam cerita Mahabharata. Jadi Karna pasti sosok yang sangat kuat dan sangat besar, aku berteriak kegirangan. Benar, Nak, sahut Bapak. Juga setia pada kawan-kawannya dan memiliki keyakinan tanpa mempedulikan akibatnya. Dikenal karena keberanian dan kesetiaannya. Karna adalah seorang panglima perang dan pembela negara yang setia.”

Di balik nama itu, tersimpan doa dan harapan kedua orang tuanya. Bahwa anak mereka akan tumbuh menjadi kesatria yang membela tanah airnya.

Cinta Srimben dan Soekeni tidak berakhir di pelaminan. Ia terus diuji sepanjang hayat. Ketika Soekarno dipenjara di Sukamiskin, Bandung, Srimben yang buta politik nekat mendatangi penjara dan meminta bertemu putranya. Ia bukan saja diusir, tapi juga dibentak petugas Belanda. Sejak saat itu, dendamnya terhadap kolonial tak terbendung. Ia mendesak Soekeni pensiun dini dari jawatan pendidikan kolonial.

Ketika Soekarno bercerai dari Inggit dan menikah dengan Fatmawati, ia menerima dengan tabah. Ketika Soekeni wafat pada 18 Mei 1945, ia kembali ke Blitar sendiri. Dan ketika Soekarno menjadi Presiden, ia tak pernah mau menginjakkan kaki di Istana Negara. Bukan karena benci kemewahan. Ia merasa cukup menjadi ibu di rumah sederhananya. Ia pernah berpesan, “Ibu panggil saya saja, maka saya akan pulang ke Blitar.”

Pada 12 September 1958, Srimben wafat. Jenazahnya dimakamkan berdampingan dengan suami dan putranya. Soekarno, dua belas tahun kemudian, menyusulnya. Di nisan itulah tertulis nama yang diberikan Soekarno sebagai tanda bakti dan hormat. Ida Ayu Nyoman Rai Srimben. Gelar kebangsawanan yang dulu dicabut pengadilan, dikembalikan oleh putranya yang menjadi pemimpin besar.

Dari kisah ini, kita belajar bahwa cinta tidak selalu membutuhkan restu untuk membuktikan kesungguhannya. Cinta tak selalu dirayakan dengan pesta megah atau hadiah mahal. Cinta sejati adalah ketika seseorang rela kehilangan gelarnya, menjual seluruh perhiasannya, dan meninggalkan tanah kelahirannya demi orang yang ia pilih. Cinta adalah perhiasan yang dilebur, bukan untuk hilang, tetapi untuk menjelma menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.

Dari leburan emas itu, lahirlah seorang proklamator. Sang Putra Fajar yang membebaskan 260 juta jiwa dari kegelapan penjajahan.

Dan pohon belimbing di Peneleh itu masih hidup. Masih berbuah. Masih setia menceritakan kisah cinta dua insan yang berani berbeda, berani membayar mahal, dan berani meninggalkan jejak yang tak akan pernah terhapus sejarah.

Disusun oleh:

Dini Amalia Putri – 23041184279

Widia Aulia Naylawati – 23041184496

Nathania Abigael Kurniadi – 2304118419

Nibras Safi Sabrina – 23041184439

Nailah Ayudia Faizzah – 23041184185

(Tim Growvia – Studi Independen Ilmu Komunikasi Unesa)

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Similar Posts

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    error: Content is protected !!