Hari Musik Nasional: Mengenang W.R. Supratman dan Karyanya

Wage Rudolf Supratman, atau W.R. Supratman, adalah sosok yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah musik Indonesia. Lahir dari pasangan Siti Senen dan Djoemeno Senen Sastrosoehardjo, ia tumbuh dalam keluarga yang penuh nilai perjuangan. Ibunya berasal dari Tulungagung, sementara ayahnya seorang sersan KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger). Perpaduan latar belakang ini membentuk karakter Supratman yang terbuka terhadap budaya sekaligus memiliki semangat nasionalisme yang kuat.
Sebelum dikenal sebagai pencipta lagu kebangsaan, Supratman sempat berkarier sebagai wartawan di majalah Sin Po. Dunia jurnalistik memberinya kesempatan untuk berinteraksi dengan berbagai pemikiran dan pergerakan kebangsaan. Namun, kecintaannya pada musik tidak pernah pudar. Malam hari ia gunakan untuk berlatih musik bersama rekan-rekan, hingga akhirnya terbentuk sebuah band jazz bernama Black and White. Band ini menjadi wadah kreativitas sekaligus sarana untuk menyalurkan semangat kebangsaan melalui nada.
W.R. Supratman belajar musik dari kakak iparnya, yang sekaligus pemilik rumah tempat ia tinggal. Dari sinilah ia semakin mendalami seni musik dan mulai menciptakan karya-karya yang sarat makna. Beberapa lagu ciptaannya yang terkenal antara lain Indonesia Iboekoe dan Ibu Kita Kartini. Lagu-lagu tersebut bukan hanya sekadar hiburan, melainkan juga media untuk menyampaikan pesan kebangsaan dan penghormatan terhadap tokoh bangsa.
Namun, perjalanan Supratman tidak selalu mulus. Setelah menciptakan lagu kebangsaan, ia mulai diawasi oleh pihak kolonial. Tekanan semakin besar hingga akhirnya ia ditahan di Penjara Kalisosok Surabaya, sebuah penjara bersejarah di kawasan kota tua. Penahanan ini menunjukkan betapa besar pengaruh musiknya terhadap semangat rakyat, hingga dianggap sebagai ancaman oleh penguasa saat itu.
Nama W.R. Supratman kini diabadikan dalam 26 jalan di Jawa Timur, sebuah bentuk penghormatan atas jasa dan pengorbanannya. Lebih dari sekadar nama jalan, hal ini menjadi simbol bahwa perjuangan Supratman terus hidup dalam denyut kehidupan masyarakat.
Beliau wafat pada 17 Agustus 1938 di usia 35 tahun, tepat di rumah kakak iparnya yang kini menjadi museum W.R. Supratman yang terletak di Jl. Mangga No. 21, Kec. Tambaksari, Surabaya. Tanggal wafatnya yang bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia menambah makna mendalam, seolah musik dan perjuangan berpadu dalam satu garis sejarah. Kepergiannya meninggalkan warisan yang tak ternilai, yaitu semangat bahwa musik bisa menjadi senjata perjuangan dan pengikat identitas bangsa.
Hari Musik Nasional menjadi momentum untuk mengenang peran W.R. Supratman. Musik bukan sekadar hiburan, melainkan medium perjuangan, penyemangat, dan pengikat identitas bangsa. Melalui kisah hidupnya, kita belajar bahwa musik mampu menyalakan semangat kebangsaan, bahkan di tengah tekanan dan pengawasan.
W.R. Supratman telah membuktikan bahwa nada bisa menjadi senjata perjuangan, dan karya bisa menjadi warisan abadi. Setiap bait lagu ciptaannya adalah pengingat bahwa musik memiliki kekuatan untuk menggerakkan hati, membangkitkan semangat, dan menyatukan bangsa.
Disusun Oleh:
– Dini Amalia Putri – 23041184279
– Widia Aulia Naylawati – 23041184496
– Nathania Abigael Kurniadi – 23041184191
– Nibras safi sabrina – 23041184439
– Nailah Ayudia Faizzah – 23041184185

Tinggalkan Balasan