Polisi Istimewa Surabaya: Dari Pasukan Bentukan Jepang Menjadi Kekuatan Republik

Surabaya setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 bukanlah kota yang langsung berada dalam keadaan aman. Pemerintah Jepang masih memiliki kekuatan militer dan kepolisian, sementara kabar kemerdekaan Indonesia belum sepenuhnya diketahui oleh masyarakat maupun seluruh kesatuan bersenjata. Di tengah situasi tersebut, muncul satu kesatuan yang memiliki peran penting dalam menjaga keamanan sekaligus mempertahankan kemerdekaan di Surabaya: Polisi Istimewa.
Jauh sebelum menjadi bagian dari perjuangan Republik Indonesia, Polisi Istimewa dikenal dengan nama Jepang Tokubetsu Keisatsu Tai. Kesatuan ini dibentuk oleh pemerintah pendudukan Jepang sebagai pasukan polisi khusus yang memiliki persenjataan lebih lengkap, mobilitas tinggi, serta kemampuan tempur yang lebih baik dibandingkan kesatuan polisi biasa.
Tokubetsu Keisatsu Tai: Pasukan Khusus Bentukan Jepang
Pada masa pendudukan Jepang, pemerintah militer Jepang berupaya memperkuat berbagai organisasi dan kesatuan di Indonesia untuk mendukung kepentingan Perang Asia Timur Raya. Selain membentuk kesatuan seperti Heiho dan PETA, Jepang juga membentuk berbagai organisasi semi-militer seperti Seinendan, Keibodan, Fujinkai, Jawa Hokokai, dan Syusintai.
Di antara berbagai kesatuan tersebut terdapat Tokubetsu Keisatsu Tai, yang dapat diterjemahkan sebagai Kesatuan Polisi Istimewa.
Kesatuan ini dibentuk pada 1944 di berbagai wilayah karesidenan di Jawa dan Madura. Setiap kesatuan memiliki kekuatan sekitar 60 hingga 150 orang. Para anggotanya dipilih dari kalangan polisi, terutama polisi-polisi muda, kemudian ditempatkan di asrama dan mendapatkan pendidikan serta latihan khusus. Mereka juga memperoleh persenjataan yang lebih lengkap dibandingkan polisi umum.
Tokubetsu Keisatsu Tai dirancang sebagai pasukan yang memiliki mobilitas tinggi. Dalam kondisi tertentu, mereka dapat dikerahkan dengan cepat untuk menghadapi gangguan keamanan bersenjata.
Karena karakter tersebut, kesatuan ini kemudian dikenal sebagai salah satu cikal bakal lahirnya Brigade Mobil (Brimob) dalam sejarah kepolisian Indonesia.
Ketika Jepang Menyerah, Polisi Istimewa Tetap Bersenjata

Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada Agustus 1945, situasi berubah secara drastis.
Pada masa itu, berbagai kesatuan militer bentukan Jepang seperti PETA, Heiho, dan Gyugun di Sumatra dibubarkan serta dilucuti. Jepang khawatir kesatuan-kesatuan tersebut akan menggunakan senjata yang mereka miliki untuk melakukan perlawanan.
Namun, terdapat perbedaan pada Tokubetsu Keisatsu Tai.
Karena tugas utamanya masih berkaitan dengan keamanan dan ketertiban masyarakat, kesatuan ini tidak langsung dilucuti. Dengan demikian, para anggota Polisi Istimewa masih memiliki persenjataan dan organisasi yang relatif lengkap ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Kondisi tersebut menjadi sangat penting bagi perjuangan di Surabaya. Sebab, di saat banyak kelompok pejuang masih berusaha mendapatkan senjata, Polisi Istimewa telah memiliki personel terlatih, pengalaman menggunakan senjata, serta struktur komando yang cukup kuat.
Merah Putih Berkibar di Asrama Polisi Istimewa
Kabar Proklamasi 17 Agustus 1945 kemudian menyebar di Surabaya, meskipun pemerintah Jepang berusaha membatasi penyebarannya.
Di tengah situasi tersebut, anggota Polisi Istimewa Surabaya mulai menentukan sikap.
Salah satu peristiwa penting terjadi pada 19 Agustus 1945. Anggota Polisi Istimewa bernama Nainggolan bersama rekannya, Soegito, menurunkan bendera Jepang atau Hinomaru dan menggantinya dengan Sang Merah Putih.
Tindakan tersebut memicu kemarahan instruktur Jepang. Bendera Jepang sempat dipasang kembali. Namun, dukungan anggota Polisi Istimewa lainnya membuat situasi semakin tegang hingga pihak Jepang akhirnya membiarkan Merah Putih tetap berkibar.
Peristiwa ini menjadi salah satu simbol awal keberanian Polisi Istimewa Surabaya dalam menunjukkan keberpihakannya kepada Republik Indonesia.
20 Agustus 1945: Menentukan Sikap
Peristiwa tersebut kemudian dilaporkan kepada pimpinan kepolisian, termasuk Inspektur Polisi Tingkat I Moehammad Jasin.
Pada 20 Agustus 1945, Jasin bersama sejumlah komandan polisi melakukan rapat untuk membahas keadaan Surabaya dan menentukan sikap setelah Proklamasi.
Situasi rapat berlangsung tegang. Jepang masih memiliki kekuatan di Surabaya sehingga keputusan untuk secara terbuka mendukung Republik bukanlah keputusan tanpa risiko.
Namun, para peserta rapat akhirnya mengambil langkah penting.
Moehammad Jasin dipercaya sebagai komandan. Persenjataan dipersiapkan dan diperkuat. Selain itu, mereka sepakat bahwa Polisi Istimewa akan menyatakan diri sebagai bagian dari Polisi Republik Indonesia.
Keputusan tersebut menjadi titik balik penting dalam perjalanan kesatuan Polisi Istimewa Surabaya.
21 Agustus 1945: Proklamasi Polisi di Surabaya
Puncak dari rangkaian peristiwa tersebut terjadi pada 21 Agustus 1945.
Pagi hari, anggota Polisi Istimewa berkumpul di markas mereka di kawasan Coen Boulevard, Surabaya. Di hadapan pasukannya, Inspektur Polisi Kelas I Moehammad Jasin membacakan sebuah pernyataan yang kemudian dikenal sebagai Proklamasi Polisi. Sumber kepolisian mencatat pembacaan tersebut berlangsung sekitar pukul 07.00 WIB.
Isi pernyataan tersebut menegaskan kesetiaan Polisi kepada Republik Indonesia:
“Oentoek bersatoe dengan rakjat dalam perjoeangan mempertahankan Proklamasi 17 Agoestoes 1945, dengan ini menjatakan Poelisi sebagai Poelisi Repoeblik Indonesia.”
Soerabaia, 21 Agoestoes 1945.
Dengan pernyataan tersebut, Polisi Istimewa Surabaya tidak lagi sekadar menjalankan tugas dalam struktur kepolisian peninggalan pemerintahan Jepang. Mereka menyatakan diri sebagai bagian dari Republik Indonesia dan berkomitmen untuk bersama rakyat mempertahankan kemerdekaan.
Peristiwa inilah yang kemudian menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Kepolisian Negara Republik Indonesia dan kini diperingati sebagai Hari Juang Polri setiap 21 Agustus.
Pawai Siaga: Ketika Polisi Istimewa Menunjukkan Diri
Setelah pembacaan Proklamasi Polisi, Moehammad Jasin memerintahkan pasukannya melakukan pawai siaga.
Pasukan bergerak menggunakan kendaraan, membawa persenjataan dan Sang Merah Putih menuju kawasan Jalan Tunjungan. Mereka meneriakkan yel-yel kemerdekaan seperti “Merdeka!” dan “Tetap Merdeka!”.
Bagi masyarakat Surabaya, pemandangan tersebut memberikan pesan yang sangat kuat.
Di tengah ketidakpastian setelah Jepang menyerah, muncul pasukan bersenjata yang secara terbuka menunjukkan keberpihakannya kepada Republik.
Awalnya masyarakat masih ragu untuk merespons. Namun, keraguan itu perlahan berubah ketika masyarakat ikut menyambut seruan kemerdekaan yang diteriakkan para anggota Polisi Istimewa.
Pawai tersebut bukan hanya menunjukkan kekuatan pasukan, tetapi juga menjadi simbol bahwa Surabaya memiliki kekuatan yang siap menjaga dan mempertahankan kemerdekaan.

Dari Polisi Istimewa Menuju Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan
Peran Polisi Istimewa tidak berhenti pada Proklamasi Polisi 21 Agustus 1945.
Dengan pengalaman, persenjataan, dan kemampuan tempur yang dimiliki, mereka kemudian menjadi salah satu kekuatan penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Surabaya. Kesatuan ini terlibat dalam berbagai aksi untuk mengamankan kota, menghadapi kekuatan Jepang, serta membantu perjuangan rakyat ketika situasi Surabaya semakin memanas.
Jejak perjuangan tersebut kemudian berlanjut hingga pertempuran besar di Surabaya pada November 1945.
Karena itu, sejarah Polisi Istimewa menjadi bagian penting dalam memahami bagaimana kemerdekaan Indonesia di Surabaya tidak hanya dirayakan, tetapi juga dipertahankan sejak hari-hari pertama setelah Proklamasi.
Dari sebuah kesatuan yang dibentuk oleh pemerintah pendudukan Jepang, Polisi Istimewa kemudian mengambil keputusan untuk berdiri bersama Republik.
Mereka memiliki senjata karena Jepang. Namun, mereka memilih menggunakan keberanian dan senjata tersebut untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Polisi Istimewa dan Ingatan Sejarah Surabaya
Hari ini, jejak sejarah Polisi Istimewa masih dapat ditemukan dalam ingatan kolektif Kota Surabaya. Nama Moehammad Jasin juga diabadikan menjadi nama jalan di kawasan yang dahulu berkaitan erat dengan markas Polisi Istimewa.
Sejarah mereka mengingatkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak dilakukan oleh satu kelompok saja. Polisi, pemuda, rakyat, dan berbagai unsur masyarakat Surabaya mengambil peran dalam mempertahankan Republik yang baru saja lahir.
Polisi Istimewa adalah salah satu bagian dari kisah tersebut—kisah tentang keberanian mengambil sikap ketika masa depan Indonesia masih penuh ketidakpastian.

Tinggalkan Balasan