Kilas Balik Surabaya 1945 dari Mata Anak-Anak Pejuang

Surabaya — Museum Sepuluh Nopember menggelar diskusi publik bertajuk “Kilas Balik Surabaya 1945 dari Mata Anak-Anak Pejuang”. Kegiatan ini menjadi ruang untuk menggali kembali sejarah Pertempuran Surabaya 1945 melalui kesaksian keluarga para pejuang serta penelusuran sejarah dari berbagai sumber.

Dalam diskusi tersebut, Museum Sepuluh Nopember menghadirkan tiga narasumber, yaitu Sri Lestari, putri almarhum Moekari yang merupakan mantan personel Tokubetsu Keisatsutai (Polisi Istimewa); Charles Edward Tumbel, putra almarhum Benny Tumbel yang merupakan anggota BKR Pelajar; serta Ady Setiawan, penulis buku tentang Pertempuran Surabaya.

Menapaki Kembali Jejak Gerilya Sang Ayah

Sri Lestari membagikan kisah personal mengenai perjuangan sang ayah, Moekari, dalam mempertahankan kemerdekaan. Ia menceritakan pengalamannya ketika pernah mengikuti sang ayah dalam menapaki kembali jalur gerilya yang dilalui dari Surabaya menuju arah selatan hingga ke kaki Gunung Wilis.

Dalam penuturannya, Sri Lestari juga mengisahkan bagaimana sang ayah tertembak ketika sedang menghadang pasukan Belanda. Dalam peristiwa tersebut, lima butir peluru bersarang di kakinya, hingga akhirnya menyebabkan kaki Moekari harus diamputasi.

Kesaksian tersebut memberikan gambaran mengenai beratnya perjuangan yang harus dijalani para pejuang setelah Pertempuran Surabaya. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya terjadi dalam pertempuran besar di medan laga, tetapi juga berlanjut melalui perjalanan gerilya dan berbagai pengorbanan personal.

Peta Gerilya Moekari

Memahami Peran Polisi Istimewa dalam Masa Perjuangan

Sementara itu, Charles Edward Tumbel membagikan pengetahuan yang diwarisinya mengenai pengalaman sang ayah, Benny Tumbel, yang merupakan anggota BKR Pelajar.

Charles juga menjelaskan mengenai perbedaan fungsi antara PETA, Heiho, dan Tokubetsu Keisatsutai pada masa pendudukan Jepang. Menurutnya, PETA dan Heiho merupakan satuan yang dipersiapkan Jepang untuk menghadapi kemungkinan meluasnya Perang Dunia II hingga ke Indonesia dan memiliki fungsi yang berkaitan dengan pertahanan.

Benny Tumbel (kiri)

Berbeda dengan keduanya, Tokubetsu Keisatsutai atau Polisi Istimewa memiliki fungsi utama menjaga keamanan. Perbedaan fungsi ini menjadi salah satu alasan mengapa ketika terjadi pelucutan senjata terhadap pasukan Jepang, Tokubetsu Keisatsutai tidak turut dilucuti seperti satuan militer lainnya.

Penjelasan tersebut memberikan konteks mengenai posisi Polisi Istimewa dalam situasi Surabaya pada masa transisi dari pendudukan Jepang menuju periode perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Menelusuri Sejarah hingga ke Negeri Belanda

Narasumber ketiga, Ady Setiawan, menghadirkan perspektif dari sisi penelusuran dan penulisan sejarah. Sebagai penulis buku tentang Pertempuran Surabaya, Ady menceritakan pengalamannya dalam menelusuri jejak sejarah hingga ke Belanda.

Dalam proses penelusurannya, ia menemukan berbagai cerita tutur mengenai peristiwa-peristiwa pertempuran, khususnya yang berkaitan dengan periode Agresi Militer Belanda. Penelusuran tersebut memperlihatkan bahwa untuk memahami sebuah peristiwa sejarah secara lebih utuh, diperlukan keberanian untuk mencari sumber dari berbagai tempat dan perspektif.

Ady juga menekankan pentingnya oral history atau sejarah lisan dalam mengisi ruang-ruang kosong yang terkadang tidak ditemukan dalam sumber tertulis.

Menurutnya, kesaksian dari pelaku maupun keluarga pelaku sejarah memiliki nilai penting karena dapat menghadirkan pengalaman manusia di balik sebuah peristiwa. Namun, sejarah lisan juga memiliki tantangan tersendiri karena adanya unsur subjektivitas dalam ingatan dan pengalaman seseorang.

Karena itu, penulis atau peneliti sejarah perlu melakukan triangulasi data, yaitu membandingkan kesaksian dengan berbagai sumber lainnya untuk menguji informasi yang diperoleh. Dengan demikian, cerita yang dihasilkan dapat memiliki dasar yang lebih kuat dan memberikan gambaran sejarah yang lebih objektif.

Di sisi lain, oral history memiliki keunggulan karena mampu menghadirkan unsur emosi dan psikologis dalam cerita sejarah. Hal-hal tersebut sering kali tidak sepenuhnya dapat ditemukan dalam dokumen atau arsip tertulis.

Menghidupkan Kembali Ingatan tentang Pertempuran Surabaya

Diskusi “Kilas Balik Surabaya 1945 dari Mata Anak-Anak Pejuang” menunjukkan bahwa sejarah Pertempuran Surabaya dapat dipahami dari berbagai sudut pandang. Kesaksian Sri Lestari dan Charles Edward Tumbel menghadirkan cerita yang diwariskan dari pengalaman orang tua mereka, sementara Ady Setiawan memberikan perspektif mengenai bagaimana cerita-cerita tersebut dapat ditelusuri, diuji, dan dikembangkan menjadi bagian dari penulisan sejarah.

Melalui kegiatan ini, Museum Sepuluh Nopember tidak hanya mengajak masyarakat untuk mengingat peristiwa 10 November 1945, tetapi juga memahami manusia dan pengalaman yang berada di balik peristiwa tersebut.

Sebab, di balik setiap catatan sejarah, terdapat cerita tentang manusia, keluarga, pengorbanan, dan ingatan yang perlu terus dirawat agar tidak hilang ditelan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!