|

Sabak: Alat Tulis Tradisional yang Ternyata Canggih dan Ramah Lingkungan

foto siswa jaman dulu dan sabak

Sabak merupakan alat tulis tradisional yang digunakan para siswa pada masa kolonial hingga awal kemerdekaan. Berbentuk segiempat dengan fungsi untuk menulis seluruh pelajaran yang diajarkan guru. Uniknya, tulisan di alat ini dapat dihapus dan digunakan kembali berkali-kali. Sejarah sabak dapat dibaca di link ini.

Singkatnya, sabak adalah alat tulis tradisional yang konsepnya cukup unik dan relevan dengan teknologi modern saat ini. Bisa dibilang sabak merupakan ‘tablet versi tradisional’ karena memiliki prinsip yang mirip yakni dapat digunakan untuk menulis dan digunakan secara berulang.

Sabak dapat dikatakan alat yang ramah lingkungan. Karena penggunaannya yang berulang kali menjadikan sabak alat tulis tanpa limbah seperti kertas maupun tinta. Selain itu, sabak juga menjadi solusi ekonomis pada masa itu. Tidak semua siswa mampu membeli buku tulis, sehingga sabak menjadi pilihan karena lebih murah dan tahan lama.

Cara Penggunaan

Berbeda dengan alat tulis modern, batu sabak tidak menggunakan pensil atau pulpen namun menggunakan alat bernama ‘grip’ yang terbuat dari batu dan dibentuk panjang mirip pensil.  Saat digunakan, akan muncul goresan di permukaan sabak. 

Untuk menghapusnya, ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Umumnya, siswa menggunakan air atau kain basah untuk membilas sabak dan menghilangkan tulisannya. Namun beberapa pengunjung menyatakan bahwa dahulu mereka juga menggunakan getah daun sebagai penghapus tulisan pada sabak. 

Fakta Unik Lainnya 

Satu lagi fakta unik yang tidak kalah menarik, masa itu guru memberi nilai pada siswa tidak pada buku laporan seperti saat ini. Sebagai gantinya, guru memberi nilai langsung diatas sabak menggunakan kapur. Kemudian para siswa menempelkan sabak itu pada pipi mereka sebagai bukti hasil pembelajaran untuk ditunjukkan pada orang tua. 

Meskipun praktis, batu sabak memiliki juga memiliki kekurangan. Sabak tidak bisa menyimpan tulisan dalam jangka panjang. Setiap dihapus, semua catatan akan hilang. Hal ini mengharuskan siswa untuk menghafal semua pelajaran yang diajarkan dan harus benar-benar fokus saat belajar. 

Menariknya lagi, konsep sabak masih digunakan hingga sekarang dalam bentuk yang lebih modern. alat seperti e-writing pad, hingga tablet memiliki prinsip yang sama yakni dapat digunakan menulis berulang kali. perbedaannya hanya terletak dengan teknologi yang digunakan dan dapat menyimpan tulisan.

Dari sini, bisa dilihat bahwa sabak bukan sekedar alat tulis tradisional, namun juga menjadi  cikal bakal inovasi modern yang digunakan saat ini. Sabak saat ini menjadi koleksi Museum dan dapat dilihat di Museum Pendidikan Surabaya tepatnya di Zona Kemerdekaan.

Sumber:

Dinas Kebudayaan (KUNDHA KABUDAYAN) DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA. (2024). Sabak dan Grip, PC Tablet era Sekolah Rakyat. Dinas Kebudayaan (KUNDHA KABUDAYAN) DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA. https://budaya.jogjaprov.go.id/berita/detail/1661-sabak-dan-grip-pc-tablet-era-sekolah-rakyat

Sabak. (n.d.). Wikipedia. Retrieved March 25, 2026, from https://id.wikipedia.org/wiki/Sabak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!