|

Study Tour SMA Negeri 1 Sukomoro Nganjuk: Menelusuri Jejak Akulturasi Budaya di Museum Sepuluh Nopember Surabaya

Sebanyak 152 siswa dari SMA Negeri 1 Sukomoro Nganjuk bersama Ibu Yunita selaku guru sejarah melaksanakan kegiatan study tour ke Museum Sepuluh Nopember pada Selasa, 14 April 2026. Kegiatan ini mengangkat tema “Menelusuri Jejak Perjuangan, Akulturasi Budaya, dan Pesona Alam Nusantara”.

Kunjungan ini menjadi bagian dari pembelajaran kontekstual yang mengajak siswa memahami sejarah tidak hanya sebagai peristiwa masa lalu, tetapi juga sebagai proses pembentukan identitas bangsa Indonesia.

Museum sebagai Ruang Belajar Akulturasi dan Nasionalisme

Berada di kawasan Tugu Pahlawan, museum ini dikenal sebagai simbol perlawanan arek Suroboyo dalam peristiwa 10 November. Namun, lebih dari itu, narasi yang dihadirkan mencerminkan perjalanan panjang terbentuknya identitas bangsa yang beragam.

Sebagai kota pelabuhan, Surabaya telah lama menjadi titik temu berbagai etnis seperti Jawa, Madura, Tionghoa, Arab, hingga Eropa. Dalam konteks ini, perjuangan tidak hanya dimaknai sebagai perlawanan fisik, tetapi juga sebagai hasil dari persatuan lintas budaya.

Melalui kunjungan ini, siswa diajak memahami bahwa nasionalisme Indonesia tumbuh dari proses akulturasi nilai-nilai yang melintasi batas suku, agama, dan latar belakang sosial.

Menelaah Artefak dari Perspektif Baru

Di dalam museum, siswa tidak hanya melihat koleksi benda bersejarah, tetapi juga diajak menelaah artefak dari sudut pandang akulturasi budaya. Pendekatan ini memberikan dimensi pembelajaran yang lebih mendalam, terutama bagi siswa tingkat SMA.

Berbagai koleksi yang ditampilkan memperlihatkan bagaimana unsur budaya lokal dan pengaruh luar saling berinteraksi dan membentuk simbol perjuangan yang khas Indonesia.

Pengalaman Interaktif: Diorama dan Film Sejarah

Kegiatan belajar semakin menarik melalui diorama statis serta pemutaran film di ruang diorama elektronik. Melalui media ini, siswa dapat menelusuri strategi perjuangan, diplomasi, hingga dinamika sosial pada masa itu.

Pengalaman ini memberikan pemahaman bahwa perjuangan bangsa tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga kecerdasan intelektual dan kemampuan bernegosiasi.

Lanskap Sejarah dan Strategi Geografis

Selain pembelajaran di dalam ruang museum, siswa juga diajak mengamati tata ruang kawasan Tugu Pahlawan yang memiliki lanskap terbuka luas. Hal ini menjadi bahan analisis mengenai pentingnya posisi geografis dalam strategi pertahanan.

Siswa dapat memahami bahwa banyak peristiwa sejarah di Nusantara terjadi dengan mempertimbangkan kondisi alam dan letak strategis wilayah.

Kreasi Narasi Sejarah oleh Siswa

Sebagai bagian dari aktivitas edukatif, siswa diminta membuat narasi singkat atau konten media sosial berdasarkan artefak yang mereka amati. Karya tersebut kemudian akan dikurasi di sekolah, dan hasil terbaik akan dipublikasikan melalui media sosial sekolah.

Kegiatan ini diharapkan mampu melatih kemampuan berpikir kritis, literasi sejarah, serta kreativitas siswa dalam menyampaikan pesan kebangsaan di era digital.

Menjadikan Museum sebagai Ruang Inspirasi

Kunjungan ini menegaskan peran museum sebagai ruang belajar yang hidup, di mana sejarah tidak hanya dipelajari, tetapi juga dimaknai ulang oleh generasi muda.

Melalui pengalaman langsung di Museum Sepuluh Nopember, siswa diharapkan mampu memahami bahwa perjuangan bangsa Indonesia adalah hasil dari kolaborasi berbagai budaya yang tetap berakar kuat pada jati diri Nusantara.

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!